Menurutensiklopedia, Yang berarti œmenggabungkan sesuatu dengan yang lain adalah lafaz? jawabanya adalah ???
ShahihMuslim hadis nomor 4177. karena kamu semua adalah 'Abiidullah (budak atau hamba Allah) dan kaum wanita adalah Imaaullah (hamba sahaya Allah). Ghulaami (pelayanku) dan Jariyati (pelayan perempuanku) atau Faataya (pemudaku) dan Fataati (pemudiku).". ( 3) Ali bin Hajar bin Iyas, As Sa'adiy, Abu Al Hasan Tabi'ut Tabi'in kalangan
AbiJa'far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari (w. 310 H) mengatakan bahwa makna dari ayat ini adalah: janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan cara yang batil atau
yangberarti menggabungkan sesuatu dengan yang lain. Pendapat tersebut menurut . Subkhi Salih; Imam Asy-Syaf'i; Syeikh Abdul Qodir Jaelani ; Syeikh Muhammad khudari Beik ; Al-Asy'ari dan beberapa golongan lain; Pembahasan: Kata Qur'an berasal dari lafaz قَرَنَ yang berarti menggabungkan sesuatu dengan yang lain. Pendapat tersebut
TALFIQDALAM PANDANGAN ULAMA Oleh Ustadz Abu Humaid Arif Syarifudin Dalam bahasa Arab, kata talfiq (التَّلْفِيقُ) berasal dari kata (لَفَّقَ - يُلَفِّقُ - تَلْفِيقاً) yang berarti menggabungkan sesuatu dengan yang lain. Misalnya seperti ungkapan (لَفَّقْتُ الثَّوْبَ) yang artinya, saya menggabungkan antara kedua ujung baju (pakaian
P4llD0. Pengertian Al-Quran Secara Bahasa dan Akar Kata Thu, 19 March 2020 0100Ada banyak pendapat yang berbeda-beda tentang asal kata dari lafadz Al-Quran. Sebagian berpendapat bahwa lafadz Al-Quran itu merupakan bentukan dari kata dasar qara’a yaqra’u قرأ - يقرأ yang berarti bacaan. Kita sering menghubung-hubungkan lafadz Al-Quran dengan akar kata atau kata dasar qara’a yaqra’u قرأ - يقرأ atau dengan istilah lain bahwa lafadz Al-Quran itu mahmuz مهموز. Pandangan semacam ini wajar, karena memang banyak ulama yang berpendapat demikian. Namun sebagian ulama lain menolak bila disebut asal kata lafadz Al-Quran itu membaca, tetapi dari kata yang lain, bahkan ada juga yang berpendapat lafadz Al-Quran itu adalah lafadz asli yang bukan bentukan dari kata lain. 1. Pendapat Pertama Pendapat pertama menyebutkan bahwa lafadz Al-Quran itu mahmuz, yaitu lafadz yang terbentuk dari akar kata yang lain. Namun mereka yang mengatakan demikian ternyata berbeda pendapat tentang akar katanya. a. Al-Qar’u Yang Berarti Gabungan Az-Zajjaj menegaskan bahwa lafadz Al-Quran itu terbentuk dari asalnya yaitu al-qar’u القرء, yang bermakna al-jam’u الجمع atau berkumpul atau bergabung. Wazannya adalah fu’la’ فُعْلاَء sebagaimana lafadz ghufran غفران. Seperti orang Arab menyebut جمع الماء في الحوض yaitu air telah berkumpul atau bergabung dalam telaga. Al-Quran itu disebut demikian karena pada hakikatnya merupakan gabungan dari kitab-kitab samawi sebelumnya.[1] b. Al-Qar’u Yang Berarti Membaca Al-Lihyani punya pendapat mirip dengan Az-Zajjaj di atas, bahwa lafadz Al-Quran itu mahmuz dan merupakan bentukan dari kata dasar al-qar’u القرء, namun maknanya menurut beliau adalah talaa تلا atau membaca.[2] Pendapat inilah yang barangkali paling sering kita dengar dari banyak kalangan. c. Al-Qarain Berarti Pembanding Al-Farra’ berpendapat bahwa kata Al-Quran itu tidak terbentuk dari kata qara’a – yaqra’u قرأ - يقرأ, tetapi merupakan bentukan dari kata dasar al-qarain القرائن yang merupakan bentuk jama’ dari qarinah قرينة. Makna qarinah itu sebanding, karena tiap ayat Al-Quran dengan ayat lainnya sebanding.[3] d. Qarana Yang Berarti Menggabungkan Demikian juga dengan Al-Asy’ari yang berpendapat agak mirip dengan Al-Farra’ di atas, bahwa lafadz Al-Quran itu merupakan bentukan dari sebuah kata dasar, yaitu qarana قرن yang berarti menggabungkan, sebagaimana kalimat qarana asy-syai’a bisy-syai’i قرن الشيء بالشيء, maknanya menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Hal itu karena ayat dan surat di dalam Al-Quran digabungkan satu dengan yang lain. [4] 2. Al-Quran Adalah Nama Asli Sedangkan yang paling berbeda sendiri justru Al-Imam Asy-Syafi’i w. 204 H rahimahullah. Sebagaimana dikutip oleh Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, disebutkan bahwa Asy-Syafi’i berpendapat bahwa lafadz Al-Quran tidak dibentuk dari kata dasar qara’a – yaqra’u قرأ - يقرأ. Sebab jika demikian, maka sebagai yang dibaca orang itu bisa disebut Al-Quran juga. Menurut beliau lafadz Al-Quran itu adalah nama asli yang Allah SWT sematkan sebagaimana lafadz Taurat dan Injil yang merupakan nama asli. [5] [1] Az-Zarkasyi, Al-Burhan, jilid 1 hal. 278 [2] As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, hal. 87 [3] As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, hal. 87 [4] Az-Zarkasyi, Al-Burhan, jilid 1 hal. 278 [5] Al-Khatib Al-Baghadi, Tarikh Baghdad, jilid 2 hal. 62
Ar tiya aslam mu ala iku waroh matu welohi wabaro katu maaff kalo salah Jawabannya Kata Qur’an berasal dari lafaz قَرَنَyang berarti menggabungkan sesuatu dengan yang lain. Pendapat tersebut menurut Imam Al-Asy’ari dan beberapa golongan lain
A. PENGERTIAN AL-QUR`AN DAN WAHYU 1. Pengertian Al-Qur`an a. Pengertian Al-Qur`an Secara Bahasa Para ulama berbeda pendapat `dalam mendefinisikan Al-Qur`an, terutama dalam memahami apakah Al-Qur`an itu mustaq atau jamid, berikut kami paparkan definisi Al-Qur`an menurut para ahli sebagai berikut 1 Menurut al-Lihyani w. 215 H berpendapat bahwa kata al-Qur`an adalah bentuk masdar dari kata qara-a -yaqra`u - Qur`an ?????? - ???????? - ???????? yang berarti membaca, namun kata Qur`an merupakan masdar yang berarti isim maf`ul, yang berarti sesuatu yang dibaca ??????????, atau berarti juga bacaan. Karena al-Qur`an itu dibaca maka dinamailah al-Qur`an. Kata tersebut selanjutnya digunakan untuk kitab suci yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. Pendapat ini berdasarkan firman Allah Swt. sebagaimana yang termaksud dalam al-Qiyamah ayat 17-18. اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ ۚ فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ Sesungguhnya atas tanggungan Kami yang akan mengumpulkannya di dadamu dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Al-Qiyamah 75 17-18 Begitu juga dalam surah Fussilat ayat 3, Allah juga berfirman كِتٰبٌ فُصِّلَتْ اٰيٰتُهٗ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَۙ - ٣ Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, Fussilat 41 3 Menurut Abu Syuhbah dalam kitabnya yang berjudul al-Madkhal li-Dirasatil Qur`an al-Karim, Pendapat al-Lihyani inilah yang paling mashur dikalangan para ulama dan banyak dipergunakan dalam mendefinisikan Al-Qur`an secara bahasa. 2 Menurut Al-Asy`ari w. 324 H Kata Qur`an berasal dari lafaz ?????? yang berarti menggabungkan sesuatu dengan yang lain, hal ini mengingat bahwa surat-suratnya, ayat-ayatnya dan huruf-hurufnya beriring-iringan dan yang satu digabungkan kepada yang kata tersebut dijadikan sebagai nama Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya. 3 Menurut Al-Farra` w. 207 H Kata al-Qur`an berasal dari kata ????????? merupakan bentuk jama` dari kata ????????? yang berarti petunjuk atau indikator, mengingat bahwa ayat-ayat al-Qur`an satu sama lain saling membenarkan. Dan kemudian dijadikan nama bagi Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. 4 Menurut Az-Zujaj w. 331 H Kata Qur`an itu kata sifat dari kata ?????????? yang di wazankan ke bentuk ????????? menjadi ???????? artinya kumpulan. Selanjutnya kata tersebut digunakan sebagai salah satu nama bagi kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., karena al-Qur`an terdiri dari sekumpulan surah dan ayat, memuat kisah-kisah, perintah dan larangan, dan mengumpulkan inti sari dari kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. 5 Menurut Asy-Syafi`i w. 204 H Kata al-Qur`an adalah isim alam, bukan kata bentukan isytiqaq atau mustaq atau berakar dari kata apapun dan sejak awal memang digunakan sebagai nama khusus bagi kitab suci yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. sebagaimana halnya dengan nama-nama kitab suci sebelumnya yang memang merupakan nama khusus yang diberikan oleh Allah Swt. yaitu Zabur Nabi Dawud as., Taurat Nabi Musa as. dan Injil Nabi Isa as.. b. Pengertian Al-Qur`an Secara Istilah Para Ulama juga berbeda pendapat dalam mendefinisikan Al-Qur`an secara Istilah, berikut definisi Al-Qur`an menurut para Ulama sebagai berikut 1 Menurut Dr. Shubhi Shalih dalam kitab Mabahits fi Ulum al-Qur`an mendefinisikan al-Qur`an sebagai berikut ?????????? ???? ?????????? ??????????? ???????????? ????? ?????????? ? ?????????????? ??? ???????????? ????????????? ???????? ?????????????? ?????????????? ?????????????. ?Al-Qur`an adalah kitab yang menjadi mu`jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, tertulis dalam mushaf, disampaikan secara mutawatir dan membacanya merupakan ibadah? 2 Menurut Syaikh Muhammad Khudari Beik mendefinisikan Al-Qur`an sebagai berikut ??????????? ???? ???????? ???????????? ???????????? ???? ????????? ? ????????????? ?????????????? ????????????? ???????????? ?????? ??? ?????? ??????????? ????????????? ?????????? ???????????? ????????????? ?????????? ????????. ?Al-Qur`an ialah firman Allah yang berbahasa Arab diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW untuk dipahami isinya dan diingat selalu, disampaikan kepada kita secara mutawatir, ditulis dalam mushaf dimulai Surat Fatihah dan diakhiri Surat an-Nas?. 3 Menurut Syaikh Muhammad Abduh mendefinisikan al-Qur`an dengan pengertian sebagai berikut ??????????? ???? ?????????? ????????????? ??? ???????????? ????????????? ???? ???????? ???? ????? ?????????? ???? ???????????????. ?Kitab al-Qur`an adalah bacaan yang tertulis dalam mushaf-mushaf, yang terpelihara di dalam dada orang yang menjaganya dengan menghafalnya yakni orang-orang Islam.? 4 Menurut Syaikh Manna` Khalil Al-Qathan mendefinisikan al-Qur`an dengan pengertian sebagai berikut ??????? ????? ???????????? ????? ????????? ? ?????????????? ?????????????. ?Al-Qur`an adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang bernilai ibadah dengan membacanya.? Dari tiga definisi tersebut di atas, maka secara sempurna, yang dimaksud Al-Qur`an adalah kalam Allah yang disampaikan dalam bahasa Arab, diturunkan secara berangsur-angsur melalui Jibril AS. kepada Nabi Muhamad SAW. sebagai mukjizat, disampaikan kepada kita sebagai penganutnya secara mutawatir, yang telah tertulis dalam mushaf Usmani dan telah dihapalkan secara baik oleh umat Islam sejak masa Nabi Muhamad SAW hidup sampai akhir zaman, dimulai Surat Fatihah diakhiri Surat An-Nas, merupakan ibadah bagi yang membacanya, dan kafir bagi yang mengingkarinya. Dari definisi di atas dapat disimpulkan unsur-unsur makna al-Qur`an sebagai berikut 1 Al-Qur`an merupakan wahyu / kalam Allah 2 Al-Qur`an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril 3 Al-Qur`an merupakan Mukjizat 4 Penyampaiannya berlangsung secara mutawattir 5 Lafad al-Qur`an berbahasa Arab 6 Al-Qur`an merupakan bacaan mulia yang bernilai ibadah jika membacanya 7 Al-Qur`an ditulis dalam mushaf, dimulai dari surat al-Fatihah diakhiri dengan surat an-Nas 8 Al-Qur`an selalu terpelihara dari berbagai bentuk kesalahan dan pemalsuan 9 Al-Qur`an kitab suci yang dihapal dan dibaca umat Islam 10 Tujuan Al-Qur`an adalah dipahami dan dipelajari diingat isinya untuk diamalkan dan sebagai hidayah petunjuk, pembimbing bagi manusia. 2. Pengertian Wahyu a. Pengertian Wahyu Secara Bahasa Secara bahasa wahyu memiliki banyak arti yang berbeda-beda. al-Qatthan menjelaskan kata ?????? - ????? - ??????? . wahyu adalah kata mashdar infinitif menunjuk pada dua pengertian dasar, yaitu; tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, dikatakan, ?wahyu ialah informasi secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang tertentu tanpa diketahui orang lain?. Secara bahasa wahyu juga berarti memberi isyarat, ilham bisikan ghaib/halus, mengirim utusan, berbisik-bisik, berbicara pada tempat tersembunyi, yang tidak diketahui orang lain, mencampakkan ilham ke dalam hati, menuliskan, menyembelih dengan cepat atau buru-buru. Di dalam al-Qur`an terdapat kalimat wahyu dan kalimat yang diambil daripadanya sebanyak 70 kali yang dipakai dengan beberapa arti. Berikut arti kata wahyu yang termaktub dalam Al-Qur`an a. Wahyu berarti Ilham al-fithri lil-insan ilham yang menjadi fitrah manusia. Seperti wahyu terhadap ibu Musa, ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ? ? ?Dan Kami wahyukan ilhamkan kepada ibunya Musa, ?Susuilah dia Musa, dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai Nil. Dan janganlah engkau takut dan jangan pula bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.? Al-Qashas 28 7. b. Wahyu berarti naluri/instink pada binatang, seperti wahyu kepada lebah ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, ?Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia,? An-Nahl 16 68. c. Wahyu berarti memberikan isyarat kepada orang lain, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan al-Qur`an ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka; bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.? Maryam 19 11. d. Wahyu berarti bisikan jahat, baik bersumber dari setan, jin maupun manusia untuk menipu manusia. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?? ?Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia?. Al-An`am 6 112. e. Wahyu berarti apa yang disampaikan Allah kepada para malaikat-Nya berupa suatu perintah untuk dikerjakan, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Ingatlah, ketika Tuhanmu mewahyukan memerintahkan kepada para malaikat, ?Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang telah beriman.? Kelak akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka. Al-Anfal 8 12. f. Wahyu berarti penyampaian informasi dari Allah kepada para nabi-Nya, baik secara langsung maupun melalui perantaraan malaikat Jibril ataupun malaikat lainnya, firman Allah, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ?Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan malaikat lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.? Asy-Syura 42 51. Jika disimpulkan berbagai pengertian wahyu secara lughat etimologi yang telah dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa wahyu adalah pemberian informasi kepada orang lain secara cepat dan tersamar. Subyek yang memberi wahyu bisa seseorang manusia, syaithan, malaikat, atau Allah sendiri. b. Pengertian Wahyu Secara Istilah Sedangkan menurut istilah syara wahyu memiliki definisi sebagai berikut ????????? ??????? ??????? ????? ???????????? ????? ??????? ???? ????????????? ?Wahyu secara istilah syara` adalah kalam firman Allah yang diturunkan kepada seorang nabi dari para nabi-nabi-Nya.? Menurut para ulama pengertian wahyu dapat disajikan sebagai berikut a. Wahyu menurut Syaikh Muhamad Abduh ????????? ???????? ????????? ???? ???????? ???? ??????????? ????????? ???? ?????? ????? ???????? ??????????? ???? ???????? ?????????
AL-QURAN ; WAHYU DAN KALAM ALLAH Makalah Disampaikan dalam forum seminar kelas Mata Kuliah PDPI I Oleh Syakkar Lakka NIM Dosen Pembimbing PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA UMI-MAKASSAR 2004 AL-QUR’AN WAHYU DAN KALAM ALLAH Oleh H. Abu Syakkar Lakka I. PENDAHULUAN A. Latarbelakang Masalah Al-Quran adalah kalamullah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril dan disampaikan kepada ummat manusia untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan di dunia ini. Al-Quran yang dikenal nama al-Kitab[1], di dalamnya terdapat berbagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa dan tidak diragukan kebenerannya.[2] Dan juga di dalam al-Quran terdapat ayat-ayat mengenai keimanan, ketaqwaan, keadilan, kearifan dan sebagainya, selain itu terdapat pula ayat yang menyangkut masalah kekafiran, kefasikan, kedhaliman, kemunafikan dan kedurhakaan dan sebagainya. Allah swt, menamai kitab yang diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad saw. untuk disampaikan kepada seluruh ummat manusia, dengan beberapa nama. Di antaranya yang popular, ialah al-Kitab dan al-Quran.[3] Oleh karena itu, penulis akan membahas makalah tentang “Al-Quran ; Wahyu dan Kalam Allah”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan keterangan diatas, maka penulis mengajukan beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, sebagai berikut 1. Apa makna al-Qur’an, wahyu dan ilham ? 2. Bagaimana cara diturunkan al-Quran ? 3. Bagaimana kedudukan al-Qur’an sebagai Kalam Allah swt. ? 4. Apa nama lain al-Qur’an ? 5. Bagaimana kandungan pokok al-Qur’an ? II. PEMBAHASAN A. Pengertian al-Qur’an al-Qur’an menurut epiestimologi berakar kata dari ق – ر – أ yang mempunyai arti mengumpulkan. Sedangkan القراءة berarti ضم الحروف والكلمات بعضها الى بعض فى الترتيل Artinya Menggambarkan huruf-huruf dan kata-kata sebahagian kepada sebahagian lainnya dalam susunan/bacaan.[4] Al-Quran pada dasarnya seperti القرآن , merupakan mashdar dari قرأ قرئة قرآنا atau قرآته yang merupakan mashdar atas timbangan wazan “فُعْلاَن” [5] Abd. Al-Shabur Syahim meberikan definisi tentang al-Qur’an الْقُرْآن كَلاَ مُ اللهِ الْمُنَزِّلُ عَلَى قَلْبِ محمد صلى الله عليه و سلم بوساطة الوحي – روح القدس – منجما فى شكل آيات وسور خلال فترة الرسالة ثلاث و عشرين سنة مبدوءا بفاتحة الكتاب محفوما بسورة الناس منقولا باالتواتر المطلق برهانا معجزا على صدق رسالة الإسلام Artinya al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad saw dengan perantaraan wahyu melalui ruh al-Qudus Jibril yang tersusun dalam bentuk ayat-ayat dan surah-surah. Seputar patrah risalah ± 23 Tahun yang dimulai dengan surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Naas yang diriwayatkan secara mutawatir yang merupakan mukjizat dan dalil-dalil atas kebenaran risalah Islam.[6] Al-Asy’ary yang dikutip Hasbi as-Shiddieqy, mengemukakan bahwa lafadz al-Quran diambil dari lafadz “qarana” yang berarti menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kemudian lafadz Quran itu dijadikan nama Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya. Dinamai wahyu Tuhan ini dengan al-Quran, mengingat bahwa surat-suratnya, ayat-ayatnya dan huruf-hurufnya, beriring-iringan dan yang satu digabungkan kepada yang lainnya.[7] Untuk memperoleh pengertian yang bernash bagi kalimat “Quran”, dapat diperhatikan maknanya serta cara al-Quran sendiri mempergunakan kalimat tersebut. Seperti dalam QS. al-Qiyamah75 16, 17, 18, yang berbunyi لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ Terjemahnya Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al Qur’an karena hendak cepat-cepat menguasai nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya di dadamu dan membuatmu pandai membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.[8] Menurut lahir makna ayat tersebut, lafadz “Quran” diartikan “bacaan”, yakni Quran ialah kalamullah yang dibaca berulang-ulang oleh manusia. Selain ayat tersebut, masih terdapat ayat-ayat memakai makna al-Quran sebagai bacaan, seperti Dalam QS al-Baqarah 2 185 Dalam QS al-Hijr 15 87 Dalam QS Thaha 20 2 Dalam QS al-Naml 27 6 Dalam QS al-Ahqaf 46 29 Dalam QS al-Waqi’ah 56 77 Dalam QS al-Hasyr 59 21 Dalam QS al-Dahr/al Insan 76 23.[9] B. Pengertian Wahyu Wahyu menurut bahasa adalah isim mashdar yang berarti sesuatu yang diwahyukan dengan maksud mengemukakan sesuatu secara sembunyi dan rahasia dan lebih umum berupa isyarat atau kitabah/tulisan atau risalah.[10] Al-Syekh Muhammad Abd. Al-Adzim al-Syarqani memberikan definisi wahyu menurut syar’I, bahwa Allah swt. memberitahukan kepada hambanya yang menjadi pilihannay segala sesuatu yang diinginkan dari berbagai macam bentuk hidayah dan ilmu dengan cara rahasia tersembunyi yang bukan kebiasaan manusia.[11] Di dalam al-Quran terdapat lafadz wahyu dan lafadz yang diambil diisytiqaq daripadanya, kira-kira tujuh puluh kali dan dipakai dengan beberapa arti. Dalam QS. Maryam ayat 11 kata wahyu dipakai dengan arti “isyarat”. Dalam QS al-An’am ayat 121 kata wahyu dipakai dengan arti “perundingan-perundingan yang jahat dan bersifat rahasia” Dalam QS an-Nahl ayat 68 kata wahyu dipakai dengan arti “ilham” yang bersifat tabiat. Dalam QS al-Qashash ayat 7, kata wahyu dipakai dengan arti “ilham” yang diberikan diilhamkan kepada selain dari Nabi Muhammad saw. dan selain dari malaikat.[12] C. Pengertian Ilham Rajab bin Ibrahim bin Abd. Al-Azis Shaqar memberikan pengertian tentang ilham, yaitu bahwa Allah mengungkapkan suatu makna tertentu ke dalam jiwa hati Nabi dengan melalui ucapanNya yang merupakan ilmu darun tidak dapat dihindari dan tidak perlu diragukan. Dengan demikian, ilham adalah merupakan ilmu pemberian yang dimaksudkan oleh Allah ke dalam jiwa secara tiba-tiba tanpa mukaddimah. Ilham adalah bahagian dari wahyu. [13] Ilham ialah menuangkan suatu pengetahuan ke dalam jiwa yang diminta supaya dikerjakan oleh yang menerimanya dengan tidak lebih dahulu dilakukan ijtihad dan menyelidiki hujjah-hujjah agama. Yang demikian itu terkadang diperoleh dengan jalan kasyaf dan terkadang diperoleh dengan tidak memakai perantaraan malaikat menurut cara yang tertentu yang Tuhan pergunakan beserta tiap-tiap maujud. Adapun wahyu, maka dia diperoleh dengan perantaraan “malak” karena itu tidak dinamai hadits-hadits Qudsi dengan wahyu, walaupun dia Kalam Allah juga.[14] D. Cara pewahyuan al-Qur’an Adapun cara-cara pewahyuan al-Qur’an adalah 1. Malaikat Ibril menampakkan dirinya kepada Rasulullah saw. dalam bentuk aslinya hal ini hanya terjadi dua kali disebabkan karena kekuatan Rasulullah sebagai manusia tidak sanggup untuk selalu melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya dan ini merupakan suatu hikmah dari Allah kepada Rasulullah saw. Dalam QS. Al-Najm 13-14, Allah swt, berfirman وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى Terjemahnya Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain, yaitu di Sidratil Muntaha.[15] Diriwayatkan dari at-Tirmidzi dari Aisyah bahwasanya dia berkata rasulullah tidak melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya kecuali dua kali sewaktu di sidratul muntaha dan di jiyad suatu tempat di kota Makkah baginya Jibril 600 sayap yang menutupi ufuk.[16] 2. Malaikat Jibril datanga menyampaikan wahyu berupa bentuk seorang laki-laki kepada Nabi Muhammad saw. dengan mengucapkan kata-kata sehingga beliau mengetahui dan hafal benar kata-kata tersebut. Kadang datang kepada Rasulullah menyerupai sahabat yang ganteng namanya Dihyah al-Kalaby dan para sahabat yang hadir melihatnya dan mendengarkan perhatiannya akan tetapi para sahabat tidak mengetahuinya kalu yang datang adalah malaikat Jibril kecuali dari Rasulullah.[17] 3. Kadang datang dalam bentuk malaikat dan tidak seorangpun yang melihatnya termasuk Rasulullah saw. akan tetapi Nabi saw. mendengarkannya. Hal ini seperti gemerincingan lonceng di telinga bagi yang mendengarnya dan ini merupakan yang paling berat bagi Rasulullah saw. dalam penyampaian itu, Allah swt. telah berfirman dalam QS. 42 51, tentang cara pewahyuan al-Quran, yang berbunyi وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ Terjemahnya Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan malaikat lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. [18] E. al-Qur’an sebagai Kalam Allah Sebagaimana telah diuraikan bahwa al-Quran merupakan Kalam Allah swt. yang merupakan mukjizat bagi Nabi Muhammad saw. dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan secara mutawatir serta membacanya adalah suatu ibadah. Dengan demikian dapat dipahami bahwa Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. tidak dinamakan al-Quran, seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, Kitab Dzabur yang diturunkan kepada Nabi Daud as, dan Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as., tidak dianggap sebagai ibadah apabila membacanya. Demikian pula hadits Qudsi, ia adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, tidak pula dinamai al-Quran, sehingga membacanya tidak dianggap sebagai ibadah.[19] Jadi al-Quran sebagai Kalamullah adalah suatu kitab suci yang apabila membacanya merupakan suatu ibadah F. Nama al-Qur’an 1. al-Qur’an yang berarti bacaan. Dalam Al-Qiyamah 17-18, Allah swt. berfirman sebagai berikut إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ Terjemahnya Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya di dadamu dan membuatmu pandai membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.[20] 2. al-Kitab yang berarti mengumpulkan, dinamakan al-Kitab karena mengandung berbagai macam jenis dari kisah-kisah, hukum-hukum dan berita secara khusus. [21] 3. al-Furqan yang berarti “pembeda”, dianamakan al-Furqan sebab membedakan antara yang baik dan bathil, muslim dan kafir dan mu’min dan munafik. 4. al-Dzikr yang berarti “peringatan” dinamakan al-Dzikr karena di dalam al-Qur’an megandung tentang peringatan, nasehat dan berita-berita umat terdahulu.[22] Di samping nama-nama tersebut yang mashur, al-Qadhi Abu al-Maak Uzaizi bin Abd. Al-Malik menyatakan bahwa Allah menamakan al-Qur’an dengan 55 nama. Antara lain adalah 1. Kalam al-Taubah 6 6. Mauidzah Yunus 57 2. Nur al-Nisaa 174 7. Karim al-Waqiah 77 3. Rahmatan Yunus 57 8. Hakim Yunus 1-2 4. Hudan Lukman 3 9. Mubarak Shad 29 5. Syifaa al-Isra’ 82 10. Dll.[23] G. Pokok-Pokok Kandungan Al-Quran Al-Quran diturunkan untuk menjadi pegangan bagi ummat manusia yang ingin mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Tidak diturunkan hanya untuk suatu ummat atau untuk satu abad, tetapi untuk seluruh ummat manusia dan untuk sepanjang masa, karena itu luas ajarannya adalah sama dengan luasnya ummat manusia. Al-Quran mengajarkan supaya manusia tetap suci, tetapi tidak dengan jalan dikebiri. Manusia harus berbakti kepada Tuhan, tetapi jangan menjadi rahib. Manusia harus berendah hati, tetapi jangan melupakan harga diri. Manusia dapat menggunakan hak-haknya, tetapi dengan tidak mengganggu hak orang lain. manusia diwajibkan menda’wahkan agama, tetapi dengan cara bijaksana.[24] Dalam QS Al-Baqarah 2 2, 3, 4 ditegaskan ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ Tewrjemahnya Kitab Al Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab Al Qur’an yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.[25] Ayat tersebut di atas mengandung 5 perinsip, yaitu percaya kepada yang gaib, yaitu kepada Allah swt. dan kepada Malaikat-Nya. Percaya kepada wahyu yang diturunkan oleh Allah. Percaya kepada adanya hari akhirat. Mendirikan sholat. Dan Menafkahkan sebagian dari rezki yang dianugerahkan kepadanya oleh Allah swt. III. PENUTUP/KESIMPULAN Setelah membahas tentang Al-Quran Wahyu dan kalam Allah, penulis dapat mengemukakan kesimpulan sebagai berikut 1. Al-Quran kalamullah yang dibaca berulang-ulang oleh manusia. 2. Wahyu adalah pemberitahuan oleh Allah swt, kepada hambanya tentang segala sesuatu yang diinginkan dari berbagai macam bentuk hidayah dan ilmu dengan cara rahasia tersembunyi yang bukan kebiasaan manusia. 3. Ilham ialah menuangkan suatu pengetahuan ke dalam jiwa yang diminta supaya dikerjakan oleh yang menerimanya dengan tidak lebih dahulu dilakukan ijtihad dan menyelidiki hujjah-hujjah agama. 4. Cara al-Quran diturunkan adalah Malaikat Jibril as a menampakkan dirinya, b berupa bentuk seorang laki-laki, c mengucapkan kata-kata sehingga beliau mengetahui dan hafal benar kata-kata tersebut, d menyerupai sahabat yang ganteng bernama Dihyah al-Kalaby. e kadang-kadang tidak seorangpun yang melihatnya termasuk Rasulullah saw. akan tetapi Nabi saw. mendengarkannya. 5. al-Qur’an sebagai Kalam Allah adalah sebagai suatu kitab suci yang apabila membacanya merupakan suatu ibadah 6. Nama-nama al-Qur’an adalah bacaan, al-Kitab, al-Furqan, al-Dzikr, 7. Pokok-Pokok Kandungan Al-Quran adalah mengajarkan supaya manusia tetap suci, tetapi tidak dengan jalan dikebiri. Manusia harus berbakti kepada Tuhan, tetapi jangan menjadi rahib. Manusia harus berendah hati, tetapi jangan melupakan harga diri. Manusia dapat menggunakan hak-haknya, tetapi dengan tidak mengganggu hak orang lain. manusia diwajibkan menda’wahkan agama, tetapi dengan cara bijaksana. DAFTAR PUSTAKA
ar tiya aslam mu ala iku waroh matu welohi wabaro katu maaff kalo salah Ada banyak pendapat yang berbeda-beda tentang asal kata dari lafadz Alquran. Sabtu , 13 Feb 2021, 0015 WIB republika Unsur penciptaan manusia menurut Alquran ilustrasi Rep Ali Yusuf Red Andi Nur Aminah JAKARTA — Alquran memiliki banyak penamaan selain Alquran sebagai kitab suci umat Islam. Pakar Fiqih Ustaz Ahmad Sarwat Lc. MA mengatakan, ada banyak pendapat yang berbeda-beda tentang asal kata dari lafadz Alquran. Meski demikian masing-masing tidak menghilangkan isi Alquran. Baca Juga “Sebagian berpendapat bahwa lafadz Alquran itu merupakan bentukan mashdar dari fi’il madhi,” katanya dalam bukunya Mengenal Alquran. Hal ini kata Ustaz Ahmad merupakan kebiasaan orang Arab yang dalam masalah gramatika bahasa, selalu mengaitkan nama dan istilah dengan akar katanya. Namun kata dia sebagian ulama ada yang berpendapat lafadz Alquran itu adalah nama asli dan bukan bentukan dari kata lain yang maksudnya tidak punya akar kata. Pendapat pertama menyebutkan bahwa lafadz Alquran itu bentuk mashdar yang terbentuk dari fi’il madhi sebagai akar katanya. Namun mereka yang mengatakan demikian ternyata berbeda pendapat tentang akar katanya. 1. Qara’a-Yaqra’u = Membaca Al-Lihyani mengatkaan bahwa lafadz Alquran itu bentuk mashdar dari fi’il madhi Qara’a-Yaqra’u. Maknanya adalah talaa atau membaca. Pendapat inilah yang barangkali paling sering kita dengar dari banyak kalangan. 2. Al-Qar’u yang berarti gabungan Namun pendapat al-Lihyani di atas ditampik oleh Az-Zajjaj. Beliau kata Ustaz Ahmad Sarwat mengatakan bahwa lafaz Alquran itu terbentuk dari asalnya yaitu al-qar’u yang bermakna al-jam’u yang artinya kumpulan atau gabungan. Wazan-nya adalah fu’la’ sebagaimana lafadz ghufran. Seperti orang Arab menyebut yaitu air telah berkumpul atau bergabung dalam telaga. Az-Zajjaj mengatakan bahwa secara akar kata bahwa Alquran itu bermakna gabungan, karena pada hakikatnya merupakan gabungan dari kitab-kitab samawi sebelumnya. 3. Al-Qarain berarti pembanding Lain lagi dengan pendapat Al-Farra’ yang mengatakan bahwa kata Alquran itu tidak terbentuk dari kata qara’a-yaqra’u, tetapi merupakan bentukan dari kata dasar al-qarain yang merupakan bentuk jama’ dari qarinah. Makna qarinah itu sebanding, karena tiap ayat Alquran dengan ayat lainnya sebanding. 4. Qarana yang berarti menggabungkan Demikian juga dengan Al-Asy’ari yang berpendapat agak mirip dengan Al-Farra’ di atas, bahwa lafadz Alquran itu merupakan bentukan dari sebuah kata dasar, yaitu qarana yang berarti menggabungkan, sebagaimana kalimat qarana asy syai’a bisy-syai’i yang maknanya menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. “Hanya saja berbeda dengan Az-Zajjaj di atas, bahwa makna yang digabung itu maksudnya adalah Alquran itu gabungan dari banyak ayat dan surat,” katanya. fiqih muamalah membaca alquran asal kata alquran Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika … You’re Reading a Free Preview Pages 5 to 8 are not shown in this preview. Loading Preview Sorry, preview is currently unavailable. You can download the paper by clicking the button above. Berikut jawaban yang paling benar dari pertanyaan Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz? قرأ القرأ الجمع القرأ قرن Jawaban D. القرأ Jadi………. yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz القرأ. Secara singkat, jawaban dari pertanyaan Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz? tidak ada penjelasan pembahasannya. Namun, saya bisa memberikan kepastian bahwa jawaban mengenai pertanyaan Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz? akurat dan tepat benar. Kenapa? Karena jawaban tentang pertanyaan Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz? diambil dari berbagai sumber referensi terpercaya. Selain itu, jawaban atas pertanyaan Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz? sebelum dipublikasikan dilakukan verifikasi oleh para tim editor. Verifikasi jawaban pada pertanyaan Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz? melalui sumber buku, artikel, jurnal, dan blog yang ada di internet. Jadi, jawaban dari pertanyaan Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz? tidak perlu diragukan lagi. Kata Qur’an berasal dari lafaz قَرَنَ yang berarti menggabungkan sesuatu dengan yang lain. Pendapat tersebut menurut …. Subkhi Salih Imam Asy-Syaf’i Syeikh Abdul Qodir Jaelani Syeikh Muhammad khudari Beik Al-Asy’ari dan beberapa golongan lain Pembahasan Kata Qur’an berasal dari lafaz قَرَنَ yang berarti menggabungkan sesuatu dengan yang lain. Pendapat tersebut menurut Imam Al-Asy’ari dan beberapa golongan lain Jawaban E ———————— Jangan lupa komentar & sarannya Email dunia maya dalam media sosial adalah… Jelaskan kandungan isi buku Account of Egypt karya al-Baghdadi! -Quis-apakah yang dinamakan ghunnah musaddadah?sebutkan huruf huruf qolqolah!note ———————no copas lno ngasal lno ambil poi … n l———————- tolong di jawab ya pliss ini punya adik saya mohon bantuannya ya kak!! seorang muslim wajib mempunyai ilmu untuk mengenal berbagai pengetahuan tentang Islam karena sumber dari ilmu tersendiri adalah…..Tolong Dijawab Ya … Kakak sebutkan 2 contoh perilaku hormat dan patuh kepada orang tua dan guru seorang guru,dia mengajar di di dalam kelas,dia duduk di atas kursitolong terjemahkan ke dalam bahasa Arab ya kakk 8. Perhatikan beberapa pernyataan berikut! 1 Tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi 2 Rajin membersihkan pakaian juga tempat … tinggal, sehingga rumah menjadi rapih dan bersih sehingga nyaman dan sehat untuk ditinggali 3 berucap kata-kata yang maknanya kotor dan tidak sopan 4 Tidak membuang sampah sembarangan 5 Senantiasa menjaga kesucian diri dengan menjaga wudhu sepanjang hari Penerapan makna Asma’ul-Husna al-Quddus ditunjukkan pada nomor A. 2. 4. dan 5 B. 2, 3. dan 5 C. 1, 2, dan 3 D. 1, 2, dan 4 terjemahkan mufradat berikut ke dalam huruf “latin”
yang berarti menggabungkan sesuatu dengan yang lain adalah lafaz